Lompat ke isi utama

Berita

Ketua Sebut Integritas Penyelenggara Pemilu Harga Mati, Kejujuran Indikator Kesuksesan Demokrasi

Ngabuburit Pengawasan 2026

Foto: momen rangkaian tadarusan dalam kegiatan Ngabuburit Pengawasan bersama jajaran Bawaslu Lombok Timur yang dipimpin langsung oleh Ketua sambil menunggu berbuka puasa. 

Lombok Timur - Ketua Bawaslu Kabupaten Lombok Timur, Suaidi Mahsun, menegaskan indikator kesuksesan penyelenggaraan demokrasi harus mampu menumbuhkan integritas yang didasari oleh kejujuran dalam melaksanakan tugas kelembagaan.

"Integritas ini soal kejujuran, indikator sukses yang paling utama itu adalah kejujuran itu" Tegas Suaidi ketika memberikan kultum dalam pelaksanaan ngabuburit pengawasan bersama anggota, kasek, kasubag dan staf Sekretariat di Aula Kantor Bawaslu Lotim pada Kamis (12/3/2026) kemarin.

Kegiatan Ngabuburit Pengawasan ini dengan topik "Meneguhkan Integritas dan Amanah Dalam Pengawasan Demokrasi" Yang dirangkaikan dengan tadarus Al-Qur'an dan berbuka bersama sekaligus memperkuat integritas dalam menjalankan tugas pengawasan pemilu.

Suaidi juga menyampaikan soal integritas yang merupakan harga mati bagi penyelenggara pemilu untuk menyelamatkan demokrasi yang berkualitas, bermartabat, dan damai dimasa mendatang.

"Integritas ini sekali lagi harga mati bagi kita di penyelenggara, di penyelenggara ini saya lihat hanya integritas yang bisa menyelamatkan demokrasi ini" Pungkasnya

Ia juga Suaidi mengajak jajaran internal untuk menanamkan, membiasakan, dan memperkuat nilai-nilai integritas, konsisten antara perkataan dengan perbuatan serta tanggung jawab moral, sehingga berdampak positif pada saat ini dan masa yang akan datang.

"Marilah kita tanamkan nilai-nilai integritas ini pada diri kita, karena bagaimanapun integritas ini tentu berdampak  dimasa kini dan masa mendatang" Ujarnya

Lebih lanjut Ketua menyebut terkait dengan pengawasan partisipatif bahwa jikalau Bawaslu melakukan sosialisasi ini memang tidak bisa hanya waktu termin itu sekali karena untuk menyampaikan soal pengawasan ini atau melibatkan orang untuk mengawasi itu tentu tidak bisa dilakukan dalam satu termin waktu.

"Karena tidak bisa kemudian kita hanya bisa mengajak orang untuk ikut mengawasi tanpa memberikan bagaimana cara mengawasi, bagaimana mereka dalam melakukan menyampaikan laporan  umpamanya" Imbuh Suaidi

Mengajak orang mengawasi, sambung Suaidi, menyampaikan bagaimana cara mengawasi, lalu kemudian bagaimana cara menyampaikan laporan, teknis menyampaikan laporan seperti apa itu suatu rangkaian tidak bisa terpisahkan, maka kemudian melihat satu objek pengawasan partisipatif itu tidak bisa dilakukan dalam satu termin.

"Peserta atau objek yang kita ajarkan untuk pengawasan partisipatif ini harus memahami secara utuh apa yang sebenarnya menjadi hajatan pengawasan itu sendiri" Sambungnya

Penulis: Qodri

Foto: Paesal